Kamis, 04 Februari 2010
Rabu, 03 Februari 2010
Nyepi

Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.
Tujuan dan rangkaian perayaan
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar. Berikut perinciannya.
Tawur (Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "panglong ping 14 sasih kesanga", umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Tahap terakhir adalah melasti, yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut, serta menyucikan pretima. Upacara ini dilakukan di laut, karena laut dianggap sebagai sumber amerta. Selambat-lambatnya pada tilem sore, melasti harus selesai.
Nyepi
Keesokan harinya, yaitu pada panglong ping 15 (atau tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut "Catur Brata" Penyepian dan terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun baru pun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.
Intisari dari perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), menurut lontar "Sundari Gama" adalah "memutihbersihkan hati sanubari", yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu.
- Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.
Ngembak Geni (Ngembak Api)
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal "ping pisan (1) sasih kedasa (X)". Pada hari inilah Tahun Baru Saka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain. Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Çaka berakhir pada "panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X)", dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X)Diposting oleh nyoman baduda di 23.49 0 komentar
MISTERI AWAN BERGAMBAR KEMBALI TERJADI DI BESAKIH

Terjadi menjelang Penyineban(Penutupan) Karya Panca Wali Krama,diabadikan oleh penekun spiritual dan Warga Mengakui Kerap Muncul Fenomena Gaib Lainnya Seperti Seonggok Sinar Bergerak di Sekitar Gunung Agung
RENDANG- Besakih kembali menunjukkan tanda-tanda kegaiban ,setelah pasca Karya Panca Wali Krama dihebohkan dengan gambar awan berbentuk piring menutupi puncak Gunung Agung,kini fenomena alam yang muncul dalam guratan awan berwajah manusia kembali santer menjadi wecana setelah seluruh rangkaian Upacara 10 Tahunan itu berakhir .
Informasi yang berkembang dibeberapa harian lokal Amlapura,Rabu(29/4) ini memberitakan bahwa foto awan bertentuk gambaran wajah lengkap dengan mata mendelik beredar di HP HP warga Karangasem. Foto tersebut berupa awan biru dengan hamparan awan putih berbentuk sekilas wajah kepala dengan dua mata mendelik serta bagian hidung menampakkan semburan awan.
Gambar itu pertamakalinya disebutkan diambil menjelang senja oleh seorang penekun spiritual yang kebetulan pedek tangkil (Sembahyang) ke Pura Besakih pada H-1 menjelang prosesi Melasti Karya Agung Panca Bali Krama dan Betara Turun Kabeh.
Disebutkan banyak pemedek lainnya yang juga menyaksikan fenomena alam itu
Dibagian lain seorang penekun spiritual asal Amlapura Dasaran Istri memprediksi gambar yang tergurat dibalik awan sebetulnya bukan wajah, tetapi gambar kepala ikan paus sebagai simbol keangkaraan dan keserakahan sementara gambar bebek sebagai simbol kesucian tampak kecil.
”Ini menyiratkan bahwa manusia kini sudah terjebak kedalam keserakahan nafsu. Sedangkan pada gambar awan berbentuk itik menyiratkan idealisme kesucian manusia masih ada hanya skalanya kecil.” Teropongnya
Pada kesempatan yang sama penulis juga mendapat informasi dari sejuml;ah warga terutama menjelang penyineban(H-1) kerap terlihat ada seongok sinar pada malam hari bergerak diseputaran Gunung Agung
Diposting oleh nyoman baduda di 23.46 0 komentar
nanoe Biroe sekilas profil
nanoe Biroe > Profile dan Diskografi
| Nama Lengkap | : | I Made Murdita |
| Tempat & Tanggal Lahir | : | Denpasar, 17 November 1982 |
| Alamat | : | Jl. Imam Bonjol no. 234 Br. Buagan, Denpasar – Bali |
| Alamat Asal | : | |
| : | ||
| Hobby | : | Nyanyi |
| Aktifitas dalam blantika Musik Bali | ||
| Berkiprah dalam lagu Bali | : | mulai tahun 2004 sebagai Penyanyi lagu Bali |
| Studio Rekaman | : | Jayagiri Production |
| Jumlah Album | : | 2 |
| Produksi Album Terakhir | : | Jayagiri Production |
| Produser | : | Rah Man |
| Aliran Musik | : | Rock Alternatif |
| Jenis Album yang dirilis | : | Album Solo |
| Diskografi | : | Suba Kadung Matulis ( 2006 ) Matunangan ajak Dewa ( 2006 ) |
| Lagu Hits | : | Manusa Panak Manusa ( Suba Kadung Matulis - 2006) Gumi tanpa matan ai ( Suba Kadung Matulis - 2006 ) |
Sekilas profil tentang nanoe Biroe : Nanoe memang merupakan sosok seorang yang fenomenal. Ditengah persaingan antar band sekarang yang begitu ketat dengan lagu dan musik yang masing-masing memiliki kelebihan, Nanoe mampu menjadi jawara. Bakat dan talentanya dalam seni yang didalami juga melalui lembaga akademi ISI Denpasar, mampu mengilhami Nanoe untuk membuat suatu karya yang sungguh luar biasa. | ||
Diposting oleh nyoman baduda di 23.42 2 komentar
NANOE BIROE : THE BIOGRAPHY
| |||
| | |||
Diposting oleh nyoman baduda di 23.37 0 komentar
Rangda
Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.
Etimologi
Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda.[1] Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu:
Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda.
Perkembangan selanjutnya istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.
Mitos Rangda
Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga. Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak. Nama Rangda berarti juga janda.
Rangda sangatlah penting bagi mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam tari-tarian. Tari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku, lidah, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki gigi yang tajam.
Jenis-jenis Rangda
Mengidentifikasi jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu :
- Nyinga
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.
- Nyeleme
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.
- Raksasa
Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.
Diposting oleh nyoman baduda di 23.07 0 komentar
